Senin, 09 Maret 2015

tugas minggu ke -4 - aplikasi riset komunikasi



ISIDORA TRIVINA ARIESTA
135120201111055
ILMU KOMUNIKASI / MPKK

            Kriyantono (2007) menjelaskan bahwa seseorang dapat melakukan riset dengan mengkaji komunikatornya, isi pesan, media, khalayak (komunikan) maupun efek dari sebuah proses komunikasi. Kajian tersebut dapat terjadi dalam tingkatan dan bidang komunikasi. Namun bisa saja seseorang melakukan riset motif dan kepuasan menonton televisi dengan menggunakan teori Uses and Gratifications. Sedangkan menggunakan teori Agenda Setting untuk mempengaruhi agenda publik dengan kekuatan media dalam mentransfer isu yang ada di dalam masyarakat.
            Disini akan dijelaskan bagaimana pengaplikasian kedua model tersebut dalam riset komunikasi media :
A.    Agenda setting
Teori agenda setting ditemukan oleh Mc Comb dan Donals Shaw pada tahun 1968.  Sesuatu yang dianggap penting oleh media maka hal tersebut akan menjadi penting untuk dipublikasikan itulah definisi dari teori agenda setting. Khalayak akan menganggap suatu isu penting karena media akan menganggap hal itu penting juga. Griffin (2003, dalam Kriyantono,2007,h.220) ). Di dalam teori ini media massa memiliki kekuatan untuk menentukan isi atau konten dari media massa itu sendiri.
Teori agenda setting ini mempunyai kemiripan dengan teori peluru yang menganggap khalayak sangat pasif dalam menerima pesan dari media massa. Teori peluru berasumsi bahwa khalayak sangatlah pasif, mereka ditembakki dengan berbagai konten dari media massa, teori ini menganalogikan pesan komunikasi seperti obat yang disuntikkan dengan jarum ke bawa kulit pasien (Rakhmat, 1998). Perbedaan teori peluru dengan teori agenda setting adalah teori peluru lebih berfokus ada sikap, pendapat bahkan perilaku sedangkan agenda setting berfokus pada kesadaran dan pengetahuan (Kriyantono, 2007). Adapun penjelasan dari fungsi agenda setting tersebut menurut Littlejohn:
“Riset dari teori agenda setting lebih banyak menggunakan riset kuantitatif. Fungsi dari agenda setting ini sendiri merupakan proses linier yang terdiri dari tiga bagian yaitu pertama agenda media itu sendiri yang harus disusun oleh awak media. Kedua, agenda media dalam beberapa hal mempengaruhi atau berinteraksi dengan agenda publik atau naluri publik terhadap pentingnya isu yang nantiya mempengaruhi agenda kebijakan. Ketiga, agenda kebijakan (publik) adalah apa yang dipikirkan para pembuat kebijakan publik dan privat penting atau pembuatan kebijakan publik yang dianggap penting oleh publik.” Littlejohn (1996, dalam Kriyantono,2007,h.221)
            Severin (2005 dalam Kriyantono,2007,h.221) menyampaikan dimensi-dimensi tiga agenda tersebut, yaitu :
1.      Agenda media, dimensi-dimensinya:
a)      Visibialitas(visibility), yaitu jumalh dan tingkat menonjolnya berita
b)      Tingkat menonjolnya bagi khalayak (audiencesalience) yakni relevansi isi beroita dengan kebutuhan khalayak.
c)      Valensi (valence), yakni menyenangkan atau tidak menyenangkan cara pemberitaan bagi suatu peristiwa.
2.      Agenda Publik, dimensi-dimensinya:
a)      Keakraban (familiarity) yakni derajat kesadaran khalayak akan topic tertentu.
b)      Penonjolan pribadi (personal salience) yakni relevansi kepentingan individu dengan cirri pribadi.
c)      Kesenangan (favorability) yakni pertimbangan senang atau tidak senang akan topic berita
3.      Agenda Kebijakan
a)      Dukungan (support) yakni kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu berita tertentu.
b)      Kemungkinan kegiatan (likehood of action) yakni kemungkinan pemerintah melaksanakan apa yang diibaratkan
c)      Kebebasan bertindak (freedom of action)yakni nilai kegiatan yang mungkin dilakukan pemerintah

Menurut Kriyantono (2007) langkah-langkah dalam proses riset agenda setting adalah sebagai berikut:
1)      Menentukan permasalahan.
Contohnya : misalkan ditemukan masalah mengenai pengaruh media terhadap pemikiran publik. “bagaimana pengaruh yang diberikan media terhadap persepsi publik?”
2)      Menentukan kerangka pemikiran.
·         Media mempengaruhi persepsi publik
·         Media adalah : sarana atau alat yang digunakan untuk memberikan informasi kepada publik secara mudah.
·         Publik adalah : khalayak atau penikmat media tersebut.
·         Persepsi adalah pendapat atau pandangan yang dimiliki seseorang terhadap suatu hal atau fenomena.
3)      Menentukan metodologi, unit populasi, sampel, dan metode pengukuran
·         Media : isu politik yang diberitakan oleh media televisi “TVone vs MetroTv”
·         Publik : persepsi publik mengenai isu tersebut berdasarkan penyampaian konten dari dua media televisi tersebut.
4)      Merumuskan hipotesis riset.
“semakin sering seseorang menikmati media maka semakin besar pengaruh yang diberikan media tersebut terhadap persepsi atau pemikiran seseorang, sebaliknya semakin rendah seseorang menikmati media maka semakin kecil pengaruh yang diberikan media terhadap persepsi seseorang. “
5)      Menentukan metode pengumpulan data
Misalnya saja dengan menggunakan dua metode pngumpulan data yaitu dokumentasi dan survey khalayak kuesioner.


6)      Menentukan metode analisis
7)      Menggunakan metode eksplanatif karena menjelaskan hubungan minimal antara dua variabel.

 Pada awal perkembangannya riset agenda setting lebih banyak murni kuantitatif. Namun seiring dengan berjalannya waktu, agenda setting digabung dan dilengkapi dengan studi kualitatif, baik sebagai pelengkap studi awal, analisis prosesnya maupun efek lanjutan. Menurut Kriyantono (2007) menjelaskan agenda setting bisa diteliti dengan memadukan riset secara kuantitatif dengan kualitatif. Dengan memadukan dua riset tersebut mengakibatkan sebuah penelitian akan menjadi semakin baik dan mendalam. Riset agenda setting ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses terbentuknya agenda media sampai proses bagaimana agenda media mempengaruhi agenda publik.
Menurut Winter dan Eyal (1980,dalam Kriyantono, 2007,h. 228) menjelaskan bahwa korelasi yang paling kuat antara agenda media dan agenda publik adalah selama rentang waktu 4 sampai 6 minggu. Sedangkan Stone dan Mc Combs (1981, dalam Kriyantono,h. 228) menemukan bahwa diperlukan periode yang berjarak mulai dua sampai enam bulan bagi sebuah hal untuk bergerak dari agenda media menuju agenda publik.  



B.     Uses and Gratification

Teori ini sangat bertolak belakang dengan teori agenda setting. Di dalam teori agenda setting media yang berperan besar menentukan apa konten dari media itu sendiri, namun dalam teori Uses and Gratification khalayak yang berperan secara aktif memilih dan menggunakan media. Teori ini ditemukan oleh Herbert Blummer dana Elihu Kartz pada tahun 1974.
Kriyantono (2007,h.203) menuturkan bahwa riset Uses and Gratification berangkat dari pandangan bahwa komunikasi (khususnya media massa) tidak mempunyai kekuatan mempengaruhi khalayak. Inti dari teori ini adalah khalayak pada dasarnya menggunakan media massa berdasarkan motif-motif tertentu. Maksudnya adalah khalayak yang mempunyai peran penting untuk menentukan isi media massa. Contoh kecilnya bisa digambarkan seperti ini, misalnya seorang ayah yang baru pulang kerja pasti lelah dan butuh hiburan. Maka ia akan jauh lebih memilih acara atau tayangan yang ringan dan menghibur seperti acara kuis, lawak  dibandingkan tayangan dengan konten yang berat seperti berita dll.
Teori ini berkaitan dengan media exposure atau terpaan medisa karena mengacu pada kegiatan menggunakan media itu sendiri. Exposure lebih dari sekedar mengakses media yaitu apakah seseorang dapat benar-benar terbuka terhadap pesan media massa tersebut. Menurut Bovee dan Arens (1992, dalam Kriyantono, h. 205) media exposure berkaitan dengan berapa banyak orang melihat program yang ditayangkan di suatu media. Sedangkan menurut Rosengren (1974, dalam Kriyantono,h. 205) media exposure  dapat dioperasionalkan menjadi jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai jenis media, isi media yang dikonsumsi, dan berbagai hubungan antara individu konsumen media dengan isi media yang dikonsumsi secara keseluruhan.
Ada beberapa riset yang digunakan dalam teori Uses and Gratification, namun kebanyakan teori yang digunakan memfokuskan pada motif sebagai variabel independen yang mempengaruhi penggunaan media. Maksudnya adalah riset ini lebih meneliti tentang apakah khalayak merasa puas setelah menggunakan media. Kriyantono (2007) Uses and Gratification bukanlah proses komunikasi linear yang sederhana. Banyak faktor yang mempengaruhi sehingga menentukan kepercayaan dan evaluasi seseorang. Littlejohn (1996, dalam Kriyantono,h. 207) mengatakan bahwa kepercayaan seseorang mengenai isi media massa dipengaruhi oleh :
a)      Budaya dan institusi sosial seseorang
b)      Keadaan sosial seperti ketersediaan media
c)      Variabel psikologis tertentu
sedangkan nilai yang dipengaruhi adalah:
a)      Faktor kulturasi dan sosial
b)      Kebutuhan-kebutuhan
c)      Variabel psikologis.

Kepercayaan dan nilai-nilai akan menentukan perilaku konsumsi terhadap media seseorang. Maksudnya adalah seseorang akan cenderung menggunakan pengalaman dan persepsi yang ia miliki sebelumnya untuk menilai isi dari media massa dan seberapa banyak ia mengkonsumsi media tersebut.
Menurut Kriyantono (2007) langkah-langkah dalam proses riset Uses and Gratification adalah sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang masalah
1.2  Perumusan Masalah
1.3  Tujuan Penelitian
1.4  Manfaat penelitian
 BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
            2.1 Literatur review
            2.2 hipotesis teoretis
 BAB III : METODOLOGI
3.1  pendekatan dan metode riset
3.2  operasionalisasi konsep
3.3  hipotesis riset
3.4  populasi, sampel ,dan teknik penarikan sampel
3.5  unit analisis
3.6  teknik pengumpulan data
3.7  teknik analisis data

C.    Content Analysis
·         Analisis isi kuantitatif
Menurut Wimmer & Dominick (2000, dalam Kriyantono,2007) analisis isi merupakan suatu metode untuk mempelajari dan menganalisi komunikasi secara sistematik,obyektif,dan kuantitatif terhadap pesan yang tampak. Dari pengertian tersebut didapat beberapa prinsip analisis isi menurut Kriyantono (2007) adalah sebagai berikut:
1)      Sistematik : periset harus dilakukan pada keseluruhan isi yang telah ditetapkan untuk diriset
2)      Obyektif : hasil analisis tergantung pada prosedur riset bukan pada orangnya.
3)      Kuantitatif : mencatata nilai bilangan untuk melukiskan berbagai jenis isi yang didefinisikan
4)      Isi yang nyata : yang dianalisis adalah isi yang tersurat atau lampiran bukan makna yang dirasakan periset.
·         Menurut Mc Quail (2000,h.305, dalam kriyantono,2007,h. 229) tujuan dilakukan analisis terhadap isi pesan komunikasi adalah sebagai berikut :
1)      Mendeskripsikan dan membuat perbandingan terhadap isi media
2)      Membuat perbandingan antara isi media dengan realitas sosial
3)      Isi media merupakan refleksi dari nilai-nilai sosial dan budaya serta sistem kepercayaan masyarakat
4)      Mengetahui fungsi dan efek media.
5)      Mengetahui media performance
6)      Mengetahui apakah ada bias media
·         Tahapan dalam analisis isi menurut Kriyantono (2007,h. 232) :
1)      Merumuskan masalah
2)      Menyusun kerangka konseptual untuk riset deskriptif  atau kerangka teori untuk riset eksplanasi
3)      Menyusun perangkat metodologi.




Daftar Pustaka
Kriyantono, R (2007),  Teknik Praktis Riset Komunikasi.Jakarta : Kencana Prenada























Analisis parpol :

1)      Masalah : “ Apakah ada hubungan antara sikap pemilih pemula terhadap parpol dengan sikap orang tua terhadap parpol.”
2)      Instrumen : Sikap orang tua saya terhadap PAN?
a)      SS
b)      S
c)      CS
d)     TS
e)      STS
3)      Sampel : dipilih 100 siswa SMU

Riset tersebut tidak valid karena instrumen tidak sesuai dengan masalah yang akan diteliti yaitu menanyakan sikap orang tua tetapi sampel menggunakan pendapat siswa.