ISIDORA TRIVINA
ARIESTA
135120201111055
135120201111055
ILMU KOMUNIKASI
/ MPKK
Kriyantono (2007) menjelaskan bahwa
seseorang dapat melakukan riset dengan mengkaji komunikatornya, isi pesan,
media, khalayak (komunikan) maupun efek dari sebuah proses komunikasi. Kajian tersebut
dapat terjadi dalam tingkatan dan bidang komunikasi. Namun bisa saja seseorang
melakukan riset motif dan kepuasan menonton televisi dengan menggunakan teori Uses and Gratifications. Sedangkan menggunakan
teori Agenda Setting untuk
mempengaruhi agenda publik dengan kekuatan media dalam mentransfer isu yang ada
di dalam masyarakat.
Disini akan dijelaskan bagaimana pengaplikasian
kedua model tersebut dalam riset komunikasi media :
A.
Agenda setting
Teori agenda setting ditemukan oleh Mc Comb
dan Donals Shaw pada tahun 1968. Sesuatu
yang dianggap penting oleh media maka hal tersebut akan menjadi penting untuk
dipublikasikan itulah definisi dari teori agenda setting. Khalayak akan
menganggap suatu isu penting karena media akan menganggap hal itu penting juga.
Griffin (2003, dalam Kriyantono,2007,h.220) ). Di dalam teori ini media massa
memiliki kekuatan untuk menentukan isi atau konten dari media massa itu
sendiri.
Teori agenda setting ini mempunyai kemiripan
dengan teori peluru yang menganggap khalayak sangat pasif dalam menerima pesan
dari media massa. Teori peluru berasumsi bahwa khalayak sangatlah pasif, mereka
ditembakki dengan berbagai konten dari media massa, teori ini menganalogikan
pesan komunikasi seperti obat yang disuntikkan dengan jarum ke bawa kulit
pasien (Rakhmat, 1998). Perbedaan teori peluru dengan teori agenda setting
adalah teori peluru lebih berfokus ada sikap, pendapat bahkan perilaku
sedangkan agenda setting berfokus pada kesadaran dan pengetahuan (Kriyantono,
2007). Adapun penjelasan dari fungsi agenda setting tersebut menurut Littlejohn:
“Riset
dari teori agenda setting lebih banyak menggunakan riset kuantitatif. Fungsi
dari agenda setting ini sendiri merupakan proses linier yang terdiri dari tiga
bagian yaitu pertama agenda media itu
sendiri yang harus disusun oleh awak media. Kedua,
agenda media dalam beberapa hal mempengaruhi atau berinteraksi dengan
agenda publik atau naluri publik terhadap pentingnya isu yang nantiya
mempengaruhi agenda kebijakan. Ketiga, agenda
kebijakan (publik) adalah apa yang dipikirkan para pembuat kebijakan publik dan
privat penting atau pembuatan kebijakan publik yang dianggap penting oleh
publik.” Littlejohn (1996, dalam Kriyantono,2007,h.221)
Severin (2005
dalam Kriyantono,2007,h.221) menyampaikan dimensi-dimensi tiga agenda tersebut,
yaitu :
1.
Agenda
media, dimensi-dimensinya:
a)
Visibialitas(visibility), yaitu jumalh dan tingkat
menonjolnya berita
b)
Tingkat
menonjolnya bagi khalayak (audiencesalience)
yakni relevansi isi beroita dengan kebutuhan khalayak.
c)
Valensi
(valence), yakni menyenangkan atau
tidak menyenangkan cara pemberitaan bagi suatu peristiwa.
2.
Agenda
Publik, dimensi-dimensinya:
a)
Keakraban
(familiarity) yakni derajat kesadaran
khalayak akan topic tertentu.
b)
Penonjolan
pribadi (personal salience) yakni
relevansi kepentingan individu dengan cirri pribadi.
c)
Kesenangan
(favorability) yakni pertimbangan
senang atau tidak senang akan topic berita
3.
Agenda
Kebijakan
a)
Dukungan
(support) yakni kegiatan menyenangkan
bagi posisi suatu berita tertentu.
b)
Kemungkinan
kegiatan (likehood of action) yakni
kemungkinan pemerintah melaksanakan apa yang diibaratkan
c)
Kebebasan
bertindak (freedom of action)yakni nilai kegiatan yang mungkin dilakukan
pemerintah
Menurut Kriyantono
(2007) langkah-langkah dalam proses riset agenda setting adalah sebagai
berikut:
1)
Menentukan
permasalahan.
Contohnya :
misalkan ditemukan masalah mengenai pengaruh media terhadap pemikiran publik. “bagaimana
pengaruh yang diberikan media terhadap persepsi publik?”
2)
Menentukan
kerangka pemikiran.
·
Media
mempengaruhi persepsi publik
·
Media
adalah : sarana atau alat yang digunakan untuk memberikan informasi kepada
publik secara mudah.
·
Publik
adalah : khalayak atau penikmat media tersebut.
·
Persepsi
adalah pendapat atau pandangan yang dimiliki seseorang terhadap suatu hal atau
fenomena.
3)
Menentukan
metodologi, unit populasi, sampel, dan metode pengukuran
·
Media
: isu politik yang diberitakan oleh media televisi “TVone vs MetroTv”
·
Publik
: persepsi publik mengenai isu tersebut berdasarkan penyampaian konten dari dua
media televisi tersebut.
4)
Merumuskan
hipotesis riset.
“semakin sering
seseorang menikmati media maka semakin besar pengaruh yang diberikan media
tersebut terhadap persepsi atau pemikiran seseorang, sebaliknya semakin rendah
seseorang menikmati media maka semakin kecil pengaruh yang diberikan media
terhadap persepsi seseorang. “
5)
Menentukan
metode pengumpulan data
Misalnya saja
dengan menggunakan dua metode pngumpulan data yaitu dokumentasi dan survey khalayak
kuesioner.
6)
Menentukan
metode analisis
7)
Menggunakan
metode eksplanatif karena menjelaskan hubungan minimal antara dua variabel.
Pada awal perkembangannya riset agenda setting lebih banyak murni
kuantitatif. Namun seiring dengan berjalannya waktu, agenda setting digabung
dan dilengkapi dengan studi kualitatif, baik sebagai pelengkap studi awal,
analisis prosesnya maupun efek lanjutan. Menurut Kriyantono (2007) menjelaskan agenda setting bisa diteliti dengan memadukan
riset secara kuantitatif dengan kualitatif. Dengan memadukan dua riset tersebut
mengakibatkan sebuah penelitian akan menjadi semakin baik dan mendalam. Riset
agenda setting ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses terbentuknya agenda
media sampai proses bagaimana agenda media mempengaruhi agenda publik.
Menurut Winter
dan Eyal (1980,dalam Kriyantono, 2007,h. 228) menjelaskan bahwa korelasi yang
paling kuat antara agenda media dan agenda publik adalah selama rentang waktu 4
sampai 6 minggu. Sedangkan Stone dan Mc Combs (1981, dalam Kriyantono,h. 228)
menemukan bahwa diperlukan periode yang berjarak mulai dua sampai enam bulan
bagi sebuah hal untuk bergerak dari agenda media menuju agenda publik.
B. Uses and Gratification
Teori ini sangat
bertolak belakang dengan teori agenda
setting. Di dalam teori agenda setting media yang berperan besar menentukan
apa konten dari media itu sendiri, namun dalam teori Uses and Gratification khalayak yang berperan secara aktif memilih
dan menggunakan media. Teori ini ditemukan oleh Herbert Blummer dana Elihu
Kartz pada tahun 1974.
Kriyantono
(2007,h.203) menuturkan bahwa riset Uses
and Gratification berangkat dari pandangan bahwa komunikasi (khususnya
media massa) tidak mempunyai kekuatan mempengaruhi khalayak. Inti dari teori
ini adalah khalayak pada dasarnya menggunakan media massa berdasarkan
motif-motif tertentu. Maksudnya adalah khalayak yang mempunyai peran penting untuk
menentukan isi media massa. Contoh kecilnya bisa digambarkan seperti ini,
misalnya seorang ayah yang baru pulang kerja pasti lelah dan butuh hiburan. Maka
ia akan jauh lebih memilih acara atau tayangan yang ringan dan menghibur
seperti acara kuis, lawak dibandingkan
tayangan dengan konten yang berat seperti berita dll.
Teori ini berkaitan
dengan media exposure atau terpaan
medisa karena mengacu pada kegiatan menggunakan media itu sendiri. Exposure lebih dari sekedar mengakses
media yaitu apakah seseorang dapat benar-benar terbuka terhadap pesan media
massa tersebut. Menurut Bovee dan Arens (1992, dalam Kriyantono, h. 205) media exposure berkaitan dengan berapa
banyak orang melihat program yang ditayangkan di suatu media. Sedangkan menurut
Rosengren (1974, dalam Kriyantono,h. 205) media
exposure dapat dioperasionalkan menjadi
jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai jenis media, isi media yang
dikonsumsi, dan berbagai hubungan antara individu konsumen media dengan isi
media yang dikonsumsi secara keseluruhan.
Ada beberapa
riset yang digunakan dalam teori Uses and
Gratification, namun kebanyakan teori yang digunakan memfokuskan pada motif
sebagai variabel independen yang mempengaruhi penggunaan media. Maksudnya adalah
riset ini lebih meneliti tentang apakah khalayak merasa puas setelah
menggunakan media. Kriyantono (2007) Uses
and Gratification bukanlah proses komunikasi linear yang sederhana. Banyak faktor
yang mempengaruhi sehingga menentukan kepercayaan dan evaluasi seseorang.
Littlejohn (1996, dalam Kriyantono,h. 207) mengatakan bahwa kepercayaan
seseorang mengenai isi media massa dipengaruhi oleh :
a)
Budaya
dan institusi sosial seseorang
b)
Keadaan
sosial seperti ketersediaan media
c)
Variabel
psikologis tertentu
sedangkan nilai yang dipengaruhi adalah:
a)
Faktor
kulturasi dan sosial
b)
Kebutuhan-kebutuhan
c)
Variabel
psikologis.
Kepercayaan dan
nilai-nilai akan menentukan perilaku konsumsi terhadap media seseorang. Maksudnya
adalah seseorang akan cenderung menggunakan pengalaman dan persepsi yang ia
miliki sebelumnya untuk menilai isi dari media massa dan seberapa banyak ia
mengkonsumsi media tersebut.
Menurut Kriyantono
(2007) langkah-langkah dalam proses riset Uses
and Gratification adalah sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
masalah
1.2 Perumusan
Masalah
1.3 Tujuan
Penelitian
1.4 Manfaat
penelitian
BAB II :
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Literatur
review
2.2 hipotesis teoretis
BAB III
: METODOLOGI
3.1 pendekatan dan
metode riset
3.2 operasionalisasi
konsep
3.3 hipotesis riset
3.4 populasi, sampel
,dan teknik penarikan sampel
3.5 unit analisis
3.6 teknik
pengumpulan data
3.7 teknik analisis
data
C. Content Analysis
·
Analisis
isi kuantitatif
Menurut Wimmer
& Dominick (2000, dalam Kriyantono,2007) analisis isi merupakan suatu
metode untuk mempelajari dan menganalisi komunikasi secara
sistematik,obyektif,dan kuantitatif terhadap pesan yang tampak. Dari pengertian
tersebut didapat beberapa prinsip analisis isi menurut Kriyantono (2007) adalah
sebagai berikut:
1)
Sistematik
: periset harus dilakukan pada keseluruhan isi yang telah ditetapkan untuk
diriset
2)
Obyektif
: hasil analisis tergantung pada prosedur riset bukan pada orangnya.
3)
Kuantitatif
: mencatata nilai bilangan untuk melukiskan berbagai jenis isi yang didefinisikan
4)
Isi
yang nyata : yang dianalisis adalah isi yang tersurat atau lampiran bukan makna
yang dirasakan periset.
·
Menurut
Mc Quail (2000,h.305, dalam kriyantono,2007,h. 229) tujuan dilakukan analisis
terhadap isi pesan komunikasi adalah sebagai berikut :
1)
Mendeskripsikan
dan membuat perbandingan terhadap isi media
2)
Membuat
perbandingan antara isi media dengan realitas sosial
3)
Isi
media merupakan refleksi dari nilai-nilai sosial dan budaya serta sistem
kepercayaan masyarakat
4)
Mengetahui
fungsi dan efek media.
5)
Mengetahui
media performance
6)
Mengetahui
apakah ada bias media
·
Tahapan
dalam analisis isi menurut Kriyantono (2007,h. 232) :
1)
Merumuskan
masalah
2)
Menyusun
kerangka konseptual untuk riset deskriptif
atau kerangka teori untuk riset eksplanasi
3)
Menyusun
perangkat metodologi.
Daftar
Pustaka
Kriyantono, R (2007), Teknik Praktis Riset Komunikasi.Jakarta :
Kencana Prenada
Analisis parpol
:
1)
Masalah
: “ Apakah ada hubungan antara sikap pemilih pemula terhadap parpol dengan
sikap orang tua terhadap parpol.”
2)
Instrumen
: Sikap orang tua saya terhadap PAN?
a)
SS
b)
S
c)
CS
d)
TS
e)
STS
3)
Sampel
: dipilih 100 siswa SMU
Riset
tersebut tidak valid karena instrumen tidak sesuai dengan masalah yang akan
diteliti yaitu menanyakan sikap orang tua tetapi sampel menggunakan pendapat
siswa.